THIS SPACE IS OPEN FOR ADS
Rupiah Melemah ke Level Rp18.112, Arsip Cuitan Lama Parpol Gerinda Tahun 2018 Kembali Viral
Editor Kaltimfact, 06/08/2026
Nasional

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akhir-akhir ini terus menjadi sorotan tajam publik. Berdasarkan pantauan data pasar keuangan riil paling update pada Juni 2026, nilai tukar mata uang rupiah terpantau mengalami tekanan mendalam hingga sempat menyentuh angka Rp18.112 per dolar AS.
Lonjakan angka yang sangat signifikan ini seketika memicu gelombang diskusi besar di berbagai platform media sosial tanah air. Salah satunya terlihat melalui unggahan dari akun finansial populer @profesor_saham di Instagram yang langsung diserbu komentar warganet. Fenomena merosotnya nilai tukar ini rupanya memicu ingatan kolektif publik terhadap rangkaian kritik politik masa lalu terkait stabilitas mata uang Garuda.
Di tengah situasi pelemahan ekonomi saat ini, para netizen di jagat maya ramai-ramai membuka kembali arsip digital lama. Dokumen tersebut berupa cuitan-cuitan masa lalu dari akun resmi Partai Gerindra di platform X (Twitter) dari periode tahun 2018. Rangkaian unggahan masa lalu yang sarat akan kritik ekonomi tersebut kini mendadak viral kembali, dibagikan ulang ribuan kali, dan memicu perdebatan hangat mengenai konsistensi narasi ekonomi di panggung politik nasional.
Berdasarkan bukti tangkapan layar digital yang beredar luas, pada tanggal 12 Maret 2018, akun resmi partai tersebut sempat melayangkan kritik terbuka yang diarahkan langsung kepada Presiden Joko Widodo. Pada momen itu, mereka menyoroti posisi nilai tukar rupiah yang terpuruk ke level Rp13.800 per dolar AS.
Dalam narasinya, mereka menyebutkan bahwa angka tersebut merupakan titik terendah yang paling anjlok sejak masa krisis moneter pada tahun 1998 silam. Kritik senada juga terus berlanjut pada tanggal 23 April 2018 ketika nilai tukar semakin mendekati ambang batas psikologis baru, yakni Rp14.000. Saat itu, admin menuliskan pernyataan yang bernada satir mempertanyakan kondisi stabilitas ekonomi nasional.
Memasuki pertengahan tahun, tepatnya pada tanggal 24 Mei 2018, rentetan kritik ekonomi yang dilontarkan di media sosial terpantau semakin tajam. Akun resmi tersebut menjabarkan sejumlah indikator ekonomi makro yang kala itu mereka nilai sebagai rapor merah pemerintah, antara lain keberhasilan dolar menembus angka Rp14.200, kebijakan impor beras yang mencapai 1 juta ton, serta nilai utang luar negeri yang menyentuh angka Rp5.000 triilun. Rentetan kritik digital terstruktur ini kemudian ditutup pada bulan September 2018, di mana dilaporkan bahwa rupiah sempat tertekan hingga membuka perdagangan harian di level Rp14.980 per dolar AS.
Jika kita telaah secara objektif, fluktuasi nilai tukar rupiah pada tahun 2018 silam memang sangat dipengaruhi oleh faktor sentimen eksternal yang masif. Pada waktu itu, kebijakan pengetatan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) dilakukan secara sangat agresif, ditambah dengan eskalasi perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Pola pengetatan likuiditas global yang serupa ternyata juga kembali tercermin pada dinamika pasar keuangan saat ini, di mana tingginya ketidakpastian geopolitik global serta inflasi dunia memaksa nilai tukar banyak mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan berat hingga menembus batas Rp18.000.
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS