KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS

Jelang RUPS Juni 2026, Tiga Direksi Bayan Resources (BYAN) Kompak Divestasi Saham

kaltimfact, 05/16/2026

Nasional, Finansial

Image

Kabar terbaru dari lantai bursa menunjukkan adanya pergerakan signifikan dari internal manajemen PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Menjelang pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan bakal berlangsung pada 10 Juni 2026 mendatang, tiga anggota direksi emiten pertambangan batu bara raksasa ini dilaporkan kompak melakukan aksi jual atau divestasi kepemilikan saham mereka sepanjang bulan Mei 2026.

Informasi resmi keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis menjelang pertengahan Mei memvalidasi data transaksi jajaran manajemen asing tersebut. Langkah divestasi teranyar dilaporkan juga diikuti oleh Direktur Alastair Gordon Christopher Mcleod yang melepas sekitar 3 juta lembar saham pada pekan kedua Mei 2026. Transaksi beruntun dari para petinggi internal ini tentu langsung memicu perhatian besar serta memunculkan beragam analisis di kalangan para pelaku pasar modal dan investor ritel tanah air.



Berdasarkan data historis aktivitas insider, salah satu transaksi besar dilakukan oleh Neil Russell John selaku salah satu direktur perseroan pada tanggal 12 Mei 2026. Neil tercatat menjual sebanyak 3.000.000 lembar saham BYAN dengan harga pelaksanaan Rp12.000 per lembar. Transaksi bernilai total Rp36 miliar tersebut seketika memangkas porsi kepemilikan saham pribadinya secara signifikan dari yang semula sebesar 5.926.500 lembar (0,018%) menjadi tersisa 2.926.500 lembar saham saja atau setara dengan 0,009%.



Tidak hanya Neil, direktur asing lainnya yakni Oliver Khaw Kar Heng bahkan terpantau melakukan aksi jual secara bertahap sejak awal Mei 2026 hingga akhirnya mengosongkan seluruh portofolio kepemilikannya di emiten ini menjadi 0%. Pada tanggal 4 Mei 2026, Oliver menjual 18.100 lembar saham dengan harga pelaksanaan Rp11.396 per lembar. Keesokan harinya, tepat pada tanggal 5 Mei 2026, ia kembali melepas 10.500 lembar saham di harga Rp11.206 per lembar.

Aksi bersih-bersih portofolio tersebut dilanjutkan kembali oleh Oliver pada tanggal 6 Mei 2026 dengan mendivestasikan 13.800 lembar saham pada tingkat harga Rp11.065 per lembar. Rangkaian transaksi penjualan beruntun yang dilakukan oleh Oliver ini secara bertahap menurunkan sisa aset kepemilikannya dari semula 177.100 lembar hingga menyusut ke angka nol setelah merampungkan transaksi finalnya pada tanggal 8 Mei.

Maraknya aksi jual yang dilakukan oleh lingkar dalam manajemen perseroan ini terjadi di tengah performa harga saham BYAN yang sedang mengalami tekanan hebat di pasar sekunder. Pada penutupan bursa pekan ini, saham emiten batu bara milik salah satu orang terkaya di Indonesia ini terpuruk ke level Rp11.200 per lembar saham, atau mencatatkan penurunan harian sebesar 1,75% (minus 200 poin).

Jika ditarik dalam perspektif jangka waktu yang jauh lebih luas, grafik pergerakan harga saham BYAN menunjukkan tren pelemahan jangka panjang yang cukup mengkhawatirkan. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, harga saham perusahaan tambang ini sudah merosot sangat dalam hingga mencapai minus 44,55%, setara dengan kehilangan nilai sebesar 9.000 poin dari puncaknya yang sempat berada di atas level Rp20.200 per lembar.

Para analis pasar modal menilai, fenomena berkurangnya kepemilikan saham oleh pihak manajemen di tengah tren penurunan harga komoditas global sering kali menjadi indikator krusial yang dicermati serius oleh pasar. Pelaku pasar kini tengah menanti pelaksanaan RUPST awal bulan depan untuk melihat bagaimana arah kebijakan strategis masa depan perseroan di tengah volatilitas industri energi global saat ini.

KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS