THIS SPACE IS OPEN FOR ADS
Pilu Satpam Dapur MBG di Medan : Pulang ke Rumah dengan Peluru Bersarang di Punggung
Dimas Samosir, 05/22/2026
Nasional

Nasib pilu harus dialami oleh Guntur Sugoro (41), seorang ayah tiga anak yang sehari-hari bekerja sebagai petugas keamanan (satpam) di dapur umum program Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Medan. Setelah berjuang mempertahankan sepeda motor miliknya dari kepungan komplotan begal bersenjata, ia kini harus menerima kenyataan pahit. Guntur terpaksa meninggalkan ranjang perawatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pirngadi Medan dan pulang ke rumah dengan kondisi sebutir peluru senapan rakitan masih bersarang di dalam tubuhnya akibat ketiadaan biaya operasi.
Peristiwa menegangkan ini bermula pada Senin malam (11/5/2026) sekitar pukul 23.30 WIB. Saat itu, Guntur baru saja beranjak dari kediamannya di Jalan Masjid Taufik, Kecamatan Medan Perjuangan. Ia berkendara seorang diri menuju rumah seorang rekannya di kawasan Desa Saentis, Kabupaten Deli Serdang. Niatnya malam itu sangat sederhana, ia ingin meminjam uang sebesar Rp200.000 untuk menutupi biaya makan keluarganya lantaran ia belum menerima gaji bulanan dari pekerjaannya yang baru berjalan dua bulan.
Namun, saat melintasi kegelapan Jalan Pasaribu, Desa Cinta Rakyat, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, perjalanan Guntur mendadak dicegat oleh lima orang pelaku yang mengendarai dua sepeda motor. Merasa dirinya menjadi target kejahatan jalanan, Guntur mencoba mengabaikan perintah berhenti dan langsung memacu tuas gas motornya.
Seketika itu juga serangan brutal terjadi. Para pelaku langsung menyabet punggung Guntur menggunakan senjata tajam. Tak berhenti di situ, melihat korban yang masih sanggup bertahan di atas motornya, salah satu pelaku berteriak memerintahkan rekannya untuk menembak korban. Sebutir peluru dari senapan angin rakitan melesat lurus dan menghantam keras punggung bagian belakang korban hingga menembus dekat tulang rusuk.
Meski bersimbah darah dan menahan perih yang luar biasa, naluri bertahan hidup Guntur sangat kuat. Pria berusia 41 tahun ini dengan nekat menabrakkan motornya ke kendaraan salah satu pelaku hingga berhasil lolos dari kepungan dan bersembunyi di area SMP Negeri 4 Medan, sebelum akhirnya diselamatkan ke klinik terdekat.
Lantaran kondisi luka tembak yang parah dan memicu penggumpalan darah di bagian dada yang membuatnya sesak napas, Guntur dirujuk ke RSUD Pirngadi Medan. Tim medis sempat melakukan tindakan darurat berupa operasi di bagian dada untuk mengeluarkan sumbatan darah. Namun, proyektil peluru timah tajam tersebut belum sempat diangkat dari punggungnya.
Pihak keluarga, melalui adik korban bernama Budi Kurniadi, mengungkapkan bahwa mereka terpaksa membawa Guntur pulang pada Selasa (19/5/2026) sore karena terbentur biaya operasi mandiri yang sangat fantastis, yakni diperkirakan mencapai Rp50 juta hingga Rp100 juta di rumah sakit swasta. Mengingat status Guntur yang merupakan pekerja harian, angka tersebut tentu mustahil dipenuhi.
Sebelum keluar dari rumah sakit, dokter memastikan bahwa luka tembak luar telah diperban dengan baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi berat. Meski tim medis menyebutkan peluru timah tersebut tidak bersifat fatal dalam jangka pendek, Guntur mengakui keberadaan benda asing di dalam tubuhnya itu sangat mengganggu fisiknya. Setiap kali bergerak, ia kerap merasakan sensasi mengganjal dan sesak napas yang hebat, sehingga membuatnya belum bisa kembali bekerja untuk menafkahi keluarganya.
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS