KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS

Sama Bernama 'Pesta Babi' di Papua, Ini Beda Versi Film Dokumenter Kritikal vs Konten Bobon Santoso

05/20/2026

Nasional

Image

Isu seputar tanah Papua kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya dalam beberapa pekan terakhir. Fokus perhatian publik terbagi dua: di satu sisi, marak pemberitaan mengenai pembubaran acara Nonton Bareng (Nobar) film dokumenter kritis terbaru. Di sisi lain, muncul tudingan netizen mengenai adanya upaya pengalihan isu lewat konten kuliner yang memiliki kemiripan judul dari seorang YouTuber ternama. Bagaimana fakta sebenarnya?

Memasuki pertengahan Mei 2026, gelombang protes dari koalisi masyarakat sipil dan mahasiswa terus mengalir menyusul pembubaran paksa pemutaran film dokumenter berjudul "Pesta Babi". Salah satu insiden terhangat terjadi di Universitas Mataram (Unram) pada Kamis, 7 Mei 2026, disusul penolakan di beberapa kota lain oleh oknum tertentu.

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) secara resmi mengecam tindakan pembubaran tersebut karena dianggap mencederai kebebasan berekspresi yang dijamin oleh UUD 1945. Hingga saat ini, pihak penyelenggara dari koalisi lingkungan masih terus melayani tingginya permintaan nobar secara mandiri di berbagai daerah dengan prosedur yang ketat demi keamanan distribusi konten.

Film sepanjang 90 menit ini merupakan karya kolaborasi duo sutradara dokumenter investigatif ternama, Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Diproduksi bersama koalisi organisasi lingkungan seperti Watchdoc, Greenpeace, dan Jubi.id, film ini menyoroti dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) di wilayah Papua Selatan, meliputi Merauke, Boven Digoel, dan Mappi.

Dokumenter ini secara tajam mengkritik konversi lahan seluas 2,5 juta hektar hutan adat menjadi perkebunan tebu, kelapa sawit, dan lumbung pangan (food estate). Judul "Pesta Babi" sendiri diambil sebagai metafora dari tradisi sakral masyarakat Papua yang bermakna perdamaian, namun kini direfleksikan secara ironis sebagai situasi ketika pihak luar "berpesta" di atas ruang hidup masyarakat adat.

Seiring viralnya kasus pelarangan film tersebut, muncul spekulasi dari sebagian netizen di media sosial. Sebuah narasi menyebutkan bahwa vlog kuliner milik Bobon Santoso sengaja menggunakan judul serupa guna mengaburkan algoritma pencarian internet agar masyarakat tidak menemukan film dokumenter yang asli.

KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS