KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS

Selamatkan Nenek 80 Tahun dari Hipotermia!? 5 WNI Diberi Penghargaan Pemerintah Jepang

Dimas Samosir, 06/18/2026

Nasional

Image

Aksi kemanusiaan yang luar biasa kembali ditunjukkan oleh diaspora Indonesia di luar negeri. Update terbaru mengonfirmasi bahwa lima Pekerja Migran Indonesia (PMI) perempuan yang bekerja di sektor pertanian di Kota Kumamoto, Jepang, secara resmi telah menerima penghargaan Kansha-jo (surat apresiasi resmi) dari Kepolisian Minami, Kumamoto. Penghargaan tertinggi ini diberikan langsung atas keberanian, kepedulian lintas budaya, dan empati tinggi yang mereka tunjukkan dalam menyelamatkan nyawa seorang warga lokal.

Peristiwa yang menyentuh hati ini terjadi di wilayah Minami-ku, Kota Kumamoto, pada tanggal 15 Januari 2026 sekitar pukul 20.30 waktu setempat. Saat itu, wilayah tersebut sedang dilanda cuaca dingin ekstrem dengan suhu udara merosot hingga mencapai 10 hingga 11 derajat Celsius.

Kronologi Penyelamatan di Tengah Malam Kejadian bermula ketika tiga orang pekerja migran, yakni Puji Atun (24 tahun asal Cilacap), Widyawati Firda Saputri (21 tahun asal Cilacap), dan Novita Rohmah Danti (24 tahun asal Banyumas), sedang dalam perjalanan pulang ke asrama dengan mengayuh sepeda. Di tengah kegelapan malam yang menusuk, sayup-sayup mereka mendengar suara rintihan lemah dari arah saluran air atau parit beton sedalam satu meter.

Saat didekati, mereka terkejut menemukan seorang nenek berusia 80-an tahun terjebak di dalam parit tersebut dalam kondisi mematung, tanpa sarung tangan maupun penutup kepala. Nenek tersebut merintih lirih, "Tasukete, tasukete" (tolong, tolong). Diketahui, lansia tersebut terperosok saat sedang berjalan kaki dan diperkirakan sudah terjebak selama lebih dari dua jam hingga mengalami memar di bagian kaki.

Meski ketiga PMI tersebut baru tiba di Jepang pada Oktober 2025 dan memiliki keterbatasan bahasa, mereka tidak tinggal diam. Tanpa ragu, mereka langsung turun ke parit untuk memegang dan mengangkat tubuh sang nenek ke area yang aman.


Sadar akan situasi darurat medis, ketiganya segera memanggil dua rekan asrama lainnya yang lebih fasih berbahasa Jepang, yaitu Nira Nur Marisa (asal Purwakarta) dan Elly Widyawati (asal Ponorogo). Nira dan Elly sempat berlari mencari bantuan ke Koban (pos polisi kecil) terdekat yang berjarak sekitar 10 menit. Sayangnya, pos tersebut sedang kosong dan hanya menyisakan petunjuk panggilan darurat.

Sembari menunggu petugas kepolisian tiba setelah dihubungi via nomor darurat 110, kelima WNI ini dengan sigap melakukan tindakan penyelamatan pertama. Guna mencegah sang nenek terkena hipotermia akut yang bisa mengancam nyawa, mereka merelakan perlengkapan pribadi mereka. Mereka menyelimuti tubuh lansia tersebut dengan jas hujan, memakaikan topi, memberi sarung tangan, hingga menutupi kaki korban agar tetap hangat.

Sekitar 30 menit kemudian, petugas kepolisian dan ambulans tiba di lokasi kejadian. Karena sang nenek mengalami disorientasi dan tidak mengingat alamat rumahnya, polisi sempat meminta korban menuliskan namanya dalam aksara Kanji untuk identifikasi sebelum dilarikan ke rumah sakit.

KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS