THIS SPACE IS OPEN FOR ADS
Akun Parodi 'Tempo': Benarkah Ada Pengadaan Mesin Gacha di Sekolah Rakyat?
Dimas Samosir, 05/14/2026
Nasional

isu mengenai pengadaan "Mesin Gacha dan Slot" di Sekolah Rakyat dipastikan sebagai HOAKS atau konten parodi semata Atau Umunya Disebut "Poopbase" Atau "Penimpa" .
Berita asli yang diterbitkan oleh Tempo.co sebenarnya membahas tentang pengadaan mesin cuci dan kompor untuk program Sekolah Rakyat di bawah naungan Kementerian Sosial dengan nilai anggaran mencapai miliaran rupiah.
Dunia media sosial Indonesia, khususnya platform X (dahulu Twitter), baru-baru ini Ramai oleh sebuah tangkapan layar yang terlihat seperti berita investigasi serius. Dengan logo dan estetika visual yang sangat mirip dengan media nasional ternama, akun @tempedotc0 mengunggah narasi mengejutkan mengenai pengadaan "Mesin Gacha dan Slot" untuk Sekolah Rakyat yang diklaim menghabiskan dana miliaran rupiah.

Gambar yang beredar luas tersebut menunjukkan sebuah mesin cuci berwarna putih, namun teks di bawahnya tertulis dengan sangat provokatif: "Pengadaan Mesin Gacha dan Slot Sekolah sebagai Hiburan bagi Siswa". Sontak, unggahan ini memicu reaksi beragam dari netizen. Sebagian besar terpingkal karena unsur komedinya, namun tidak sedikit pula yang mulai meragukan kebijakan pemerintah akibat informasi yang menyesatkan tersebut.
Setelah dilakukan penelusuran mendalam, terungkap bahwa narasi "Mesin Gacha dan Slot" adalah hasil suntingan kreatif atau satire dari berita asli yang dirilis oleh Tempo.co pada 12 Mei 2026. Berita aslinya sendiri berjudul "Pengadaan Mesin Cuci dan Kompor Sekolah Rakyat Capai Miliaran Rupiah".
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Kementerian Sosial memang tengah menjalankan program pengadaan fasilitas penunjang untuk "Sekolah Rakyat". Total nilai pengadaan mesin cuci tercatat mencapai sekitar Rp2 miliar, sementara untuk pengadaan kompor mencapai angka Rp4 miliar. Tujuan utama dari penyediaan fasilitas ini adalah untuk menunjang kemandirian siswa agar mereka dapat mencuci pakaian sendiri di lingkungan sekolah yang memiliki sistem asrama tersebut.
Menariknya, akun resmi Tempo.co tidak tinggal diam dan turut memberikan tanggapan langsung kepada akun parodi tersebut. Dalam sebuah pesan yang kemudian viral, pihak Tempo mengimbau agar pemilik akun @tempedotc0 mengurangi intensitas "jokes" atau lelucon parodi yang menggunakan identitas visual mereka.

Kekhawatiran utama Tempo adalah para pembaca baru atau masyarakat yang tidak mengikuti perkembangan satire di media sosial (non-fans) akan salah mengira bahwa informasi tersebut adalah hasil investigasi serius dari tim redaksi Tempo. "Takutnya non-fans jadi kenal Tempo as Tempe doang dan ga notis investigasi Tempo sedangkan kami lagi menulis," tulis perwakilan Tempo dalam tanggapannya. Hal ini menyoroti betapa tipisnya batas antara kebebasan berekspresi lewat satire dengan potensi penyebaran misinformasi yang membingungkan publik.
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS