THIS SPACE IS OPEN FOR ADS
Alarm Bahaya Investasi: Kamar Dagang Tiongkok Kirim Surat Terbuka 'Pedas' untuk Pemerintah
Editor Kaltimfact, 05/13/2026
Nasional, Finansial

Iklim investasi Indonesia mendadak diguncang oleh kabar kurang sedap. Kamar Dagang Tiongkok (CCC Indonesia), yang menaungi ratusan perusahaan besar asal Negeri Tirai Bambu, baru saja melayangkan surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Surat tersebut bukan sekadar korespondensi biasa, melainkan sebuah kritik tajam terhadap kondisi birokrasi dan penegakan hukum di lapangan yang dianggap mulai "berani berteriak".
Dalam dokumen resmi tersebut, CCCI menyoroti beberapa poin krusial yang dianggap sangat menghambat operasional bisnis mereka di Indonesia. Salah satu yang paling mengejutkan adalah adanya keluhan mengenai praktik pungutan liar (pungli) dan pemerasan yang dilakukan oleh oknum berwenang. CCCI menyebutkan bahwa intervensi ilegal ini telah mencapai tahap yang sangat mengganggu stabilitas usaha dan merusak citra iklim bisnis yang bersih.
.jpg%3F2026-05-13T04%3A02%3A13.157Z&w=3840&q=100)
Denda Fantastis dan Ketidakpastian Kebijakan Selain masalah pungli, surat tersebut mengungkap adanya denda sektor kehutanan yang dijatuhkan secara sepihak dan dianggap berlebihan, dengan nilai mencapai US$180 juta atau setara dengan triliunan rupiah. Angka ini disebut-sebut sebagai 'rekor' denda yang sangat menekan likuiditas perusahaan.
Cek Lengkap Surat Dari Investor CCCI Disini
https://drive.google.com/file/d/1Gi5Af3ZPX7lRz9C-F3Bx5C5zZOBwtyH8/view?usp=drivesdk
Tak berhenti di situ, sektor pertambangan, khususnya nikel, juga terkena imbas ketidakpastian kebijakan. Perubahan aturan yang mendadak dikabarkan membuat biaya produksi melonjak hingga 200 persen, sebuah angka yang mustahil untuk diserap tanpa kerugian besar bagi para pemodal.
CCC Indonesia juga menyatakan keberatan atas rencana kebijakan wajib simpan devisa hasil ekspor (DHE) sebesar 50 persen di bank BUMN selama minimal satu tahun. Bagi para eksportir, kebijakan ini dianggap akan mencekik arus kas (cash flow) perusahaan dan menghambat rencana ekspansi bisnis jangka panjang di tanah air.
Ancaman Terhadap Target Ekonomi 8 Persen Para pengamat ekonomi menilai, jika keluhan ini tidak segera direspons dengan tindakan nyata, target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintah bisa jadi hanya akan menjadi mimpi di siang bolong
Kepercayaan investor internasional sedang dipertaruhkan. Jika Indonesia mulai dicap sebagai "sarang pungli internasional", maka pelarian modal (capital flight) ke negara tetangga bisa terjadi kapan saja. Publik kini menunggu langkah tegas dari Presiden Prabowo yang dalam berbagai kesempatan selalu menekankan komitmen untuk menyikat habis korupsi.
apakah mampu membersihkan benang kusut birokrasi demi menjaga jutaan lapangan kerja yang bergantung pada investasi asing tersebut?
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS