KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS

Komitmen PHM di Wilayah 3T: Membangun Masa Depan dari Sekolah Terapung

kaltimfact, 05/06/2026

Nasional

Image

Hingga memasuki pertengahan tahun 2024, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) terus memperkuat komitmennya dalam digitalisasi pendidikan di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Fokus bantuan kini tidak hanya pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada penguatan akses internet satelit dan penyediaan perangkat laptop guna memastikan siswa di pelosok Delta Mahakam memiliki daya saing digital yang setara dengan siswa di kota besar.

Di balik rimbunnya hutan bakau dan dinamika pasang surut Selat Makassar, sebuah perjuangan melawan keterbatasan terus bergulir. Desa Sepatin, sebuah wilayah terpencil di Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menyimpan kisah inspiratif tentang bagaimana pendidikan tetap tegak berdiri meski diapit tantangan geografis yang ekstrem.

Masyarakat mengenal SMP Negeri 6 Anggana sebagai "Sekolah Terapung". Sebutan ini bukan tanpa alasan; lokasinya berada tepat di ujung Delta Mahakam, berhadapan langsung dengan perairan bebas. Akses menuju sekolah ini adalah sebuah tantangan tersendiri. Dari Kota Samarinda, perjalanan harus ditempuh melalui jalur sungai menggunakan kapal kecil menyusuri Sungai Mahakam sejauh 80 kilometer. Waktu tempuh sekitar tiga jam, itu pun sangat bergantung pada kondisi pasang surut air laut.

Dukungan Nyata Lewat Program TJSL Keberlangsungan pendidikan di SMPN 6 Anggana yang berdiri sejak 2012 ini tidak lepas dari dukungan nyata PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR), PHM yang merupakan anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) menjadikan sekolah ini sebagai proyek percontohan kepedulian industri terhadap masyarakat pesisir.

Senior Manager Relations PT PHI, Handri Ramdhani, menjelaskan bahwa kehadiran program sekolah terapung ini bertujuan untuk memperluas akses dan meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi muda di wilayah operasional South Processing Unit (SPU). "Kami ingin mendorong semangat edupreneurship serta menumbuhkan kesadaran generasi muda pesisir akan pentingnya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," ungkapnya.

Fasilitas Modern di Tengah Keterbatasan Meski berada di lokasi terpencil, SMPN 6 Anggana kini mulai bersolek dengan fasilitas modern. Berbagai bantuan telah dikucurkan, mulai dari penyediaan laptop untuk literasi digital hingga pemasangan sumber listrik bertenaga surya (solar cell). Mengingat akses listrik PLN yang terbatas, panel surya menjadi solusi vital agar kegiatan belajar mengajar tetap optimal.

Tahun ini, PHM juga memberikan sentuhan baru dengan membangun gapura sekolah dan taman belajar yang representatif. Tak hanya soal bangunan, aspek ekologi pun turut diperhatikan. Para siswa dan tenaga pengajar dilibatkan langsung dalam aksi menanam bakau (mangrove) di sekitar sekolah sebagai upaya mitigasi perubahan iklim dan pelestarian ekosistem pesisir.

Kepala SMP Negeri 6 Anggana, Tandarman, mengungkapkan rasa syukurnya atas konsistensi bantuan yang diterima. Menurutnya, program TJSL ini memberikan manfaat nyata bagi operasional sekolah yang ia pimpin. "Program ini membuka peluang lebih luas untuk sektor pendidik di wilayah setempat. Manfaatnya sangat terasa bagi para siswa," pungkasnya.

Pendidikan di Desa Sepatin kini bukan lagi sekadar mimpi di tengah lautan. Dengan kolaborasi antara dedikasi para guru yang mengabdi di wilayah terpencil dan dukungan sektor swasta, sekolah terapung ini membuktikan bahwa jarak bukan penghalang bagi kemajuan bangsa.

KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS