THIS SPACE IS OPEN FOR ADS
Mengapa Rupiah Tembus Rp17.400 Saat Indonesia Aktif di G20 & BRICS?
kaltimfact, 05/06/2026
Nasional

Sejak awal Mei 2026, jagat media sosial Indonesia dan Malaysia diramaikan oleh infografis yang membandingkan performa ekonomi kedua negara tetangga ini. Narasi yang berkembang menyoroti kontradiksi antara keaktifan Indonesia di panggung internasional dengan nilai tukar Rupiah yang menyentuh level psikologis baru terhadap Dolar AS.
Hingga Selasa, 5 Mei 2026, nilai tukar Rupiah terpantau berada di angka Rp17.423,40 per Dolar AS, sebuah angka yang memicu perdebatan mengenai efektivitas diplomasi ekonomi Indonesia di forum-forum besar seperti G20, BRICS, dan Board of Peace (BoP)
Indonesia dibandingkan Malaysia. Dalam unggahan tersebut, Indonesia digambarkan sebagai negara yang sangat aktif dalam forum-forum besar namun memiliki mata uang yang "ambruk", sementara Malaysia digambarkan lebih pasif secara diplomatik tetapi memiliki mata uang dan paspor yang jauh lebih kuat.
.jpg%3F2026-05-06T07%3A54%3A08.427Z&w=3840&q=100)
Indonesia memang tercatat sebagai anggota tetap G20 dan telah resmi bergabung dengan blok BRICS guna memperkuat posisi ekonomi di belahan bumi selatan. Selain itu, Indonesia juga terlibat dalam inisiatif Board of Peace (BoP), sebuah forum internasional baru yang fokus pada stabilitas keamanan dan ekonomi global.
Sebaliknya, Malaysia hingga saat ini memilih untuk tetap menjadi mitra strategis tanpa bergabung secara resmi sebagai anggota tetap di beberapa blok tersebut, meskipun mereka sering hadir sebagai tamu undangan.
Kurs Mata Uang: Ringgit vs Rupiah
Data pasar spot per 5 Mei 2026 menunjukkan perbedaan kontras:
Ringgit Malaysia (MYR): Diperdagangkan di kisaran 3,96 per Dolar AS. Stabilitas Ringgit didorong oleh surplus perdagangan yang konsisten dan kebijakan moneter Bank Negara Malaysia yang ketat.
Rupiah Indonesia (IDR): Melemah hingga Rp17.423,40 per Dolar AS. Meskipun pertumbuhan ekonomi RI tetap stabil di angka 5,61% (PDB Kuartal I 2026), tekanan eksternal dari kebijakan suku bunga AS dan ketergantungan pada aliran modal asing membuat Rupiah rentan terhadap volatilitas.
Kekuatan Paspor: Lompatan Besar Malaysia
Salah satu poin yang paling menyita perhatian adalah peringkat paspor. Berdasarkan Global Passport Power Rank terbaru, paspor Malaysia melonjak ke peringkat 3 dunia, memberikan akses bebas visa ke mayoritas negara. Sementara itu, paspor Indonesia berada di posisi 54, yang meskipun mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya, masih tertinggal jauh dari negara tetangga.
Mengapa Ini Terjadi?
Para analis ekonomi menyebutkan bahwa partisipasi di forum internasional (G20, BRICS) adalah investasi jangka panjang untuk menarik investasi langsung (FDI). Namun, efeknya tidak selalu instan terhadap penguatan nilai tukar mata uang.
"Pasar melihat fundamental jangka pendek. Meskipun Indonesia aktif di G20, defisit transaksi berjalan dan volatilitas pasar global tetap menjadi faktor penentu utama nilai Rupiah," ujar seorang pengamat ekonomi di Jakarta.
Perdebatan ini mencerminkan keresahan masyarakat terhadap daya beli domestik di tengah ambisi besar pemerintah di kancah global. Sementara pemerintah terus mempromosikan Indonesia sebagai pemain kunci dunia, tantangan nyata di sektor moneter dan kemudahan mobilitas internasional (paspor) tetap menjadi pekerjaan rumah yang besar.
Apakah keanggotaan di BRICS dan G20 akan membawa kemakmuran nyata bagi rakyat dalam waktu dekat? Ataukah Indonesia perlu belajar dari model efisiensi Malaysia? Waktu yang akan menjawab.
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS