KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS

So Nice Akhirnya Minta Maaf Setelah Sempat Minta Konsumen Hapus Bukti Sosis Berjamur.

kaltimfact, 05/09/2026

Nasional

Image

Setelah sempat menuai kecaman hebat akibat cara penanganan keluhan yang dianggap kurang etis, pihak manajemen So Nice melalui akun Instagram resmi @sonice_id akhirnya merilis pernyataan maaf terbuka. Mereka mengonfirmasi telah menghubungi konsumen yang bersangkutan secara personal untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan dan berkomitmen memperbaiki sistem pengawasan kualitas produk serta respons layanan pelanggan.



Media sosial belum lama ini diguncang oleh unggahan seorang konsumen yang mendapati produk sosis siap makan, So Nice Sozzis, dalam kondisi yang mengerikan. Foto-foto yang diunggah menunjukkan sosis dengan bagian ujung berwarna hitam pekat dan tampak berjamur, meskipun kemasan baru saja dibuka dan masih dalam masa berlaku.

Konsumen tersebut merasa sangat kecewa dan trauma karena hampir saja mengonsumsi produk yang jelas-jelas tidak sehat tersebut. Keluhan ini dibagikan melalui Instagram Story dan dengan cepat menyebar ke berbagai platform seperti X (Twitter) dan TikTok. Blunder Komunikasi: "Minta Hapus Postingan" Hal yang membuat kasus ini semakin memanas bukanlah sekadar kondisi sosisnya, melainkan respons dari pihak brand. Alih-alih memberikan solusi konkret atau permohonan maaf segera, akun resmi @sogoodid justru mengirimkan pesan singkat (DM) kepada konsumen tersebut.



Isinya? Meminta agar konsumen menghapus mention dan unggahan terkait kasus tersebut di media sosial dengan alasan produk tersebut belum sempat dicek oleh tim internal. Langkah ini dianggap netizen sebagai upaya "pembungkaman" dan kurangnya empati terhadap konsumen yang telah dirugikan secara psikis (trauma). Jawaban tegas konsumen, "Gak, gamau dihapus karna jd traumaaa enek bgttt," menjadi puncak kekesalan publik terhadap cara brand menangani krisis komunikasi di era digital.

Dalam industri makanan olahan, kontaminasi bisa terjadi karena kebocoran halus pada segel kemasan saat distribusi atau penyimpanan di tingkat ritel. Namun, secara fakta, kegagalan terbesar dalam kasus ini terletak pada manajemen krisis atau Public Relations (PR). Berdasarkan aturan internet secara umum, transparansi adalah hal mutlak. Upaya menutupi keluhan pelanggan biasanya akan berujung pada efek Streisand, di mana informasi yang coba disembunyikan justru akan semakin tersebar luas. Hal inilah yang terjadi pada So Nice, di mana netizen justru semakin gencar membagikan tangkapan layar percakapan tersebut sebagai bentuk protes terhadap arogansi brand.

Langkah Penyelamatan dan Penutup Menyadari posisi yang sulit, So Nice akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka mengakui bahwa kepercayaan konsumen dibangun bukan hanya dari kualitas produk, tetapi juga dari cara perusahaan merespons masukan dan keluhan.



Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi brand besar di Indonesia: bahwa suara satu konsumen di media sosial memiliki kekuatan besar, dan kejujuran dalam mengakui kesalahan jauh lebih dihargai daripada upaya menutupi fakta. Bagi masyarakat, sangat disarankan untuk selalu mengecek kondisi fisik produk makanan sebelum dikonsumsi, meskipun kemasan tampak utuh dari luar.

KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS