KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS

Strategi 'Paus' Hengky Adinanta dan Risiko Saham High Concentration

kaltimfact, 05/09/2026

Nasional, Finansial

Image

Pasar modal Indonesia kembali dikejutkan oleh pergerakan liar saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA). Setelah mencatatkan reli kenaikan yang signifikan hingga menyentuh Auto Rejection Atas (ARA) berkali-kali, saham ini mendadak terjun bebas hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Kejadian ini memicu kekhawatiran massal di kalangan investor retail dan menarik perhatian serius dari otoritas bursa.

Berdasarkan pengumuman resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dengan nomor Peng-00010-HSC/BEI.WAS/05-2026, per tanggal 7 Mei 2026, saham WBSA resmi dinyatakan memiliki Kepemilikan Saham Terkonsentrasi Tinggi. Data menunjukkan bahwa pemegang saham tertentu secara agregat menguasai 95,82% dari total saham WBSA. Hal ini menyisakan porsi publik (free float) yang sangat tipis, menjadikannya sangat rentan terhadap manipulasi harga maupun volatilitas ekstrem.

Sorotan utama tertuju pada unggahan media sosial Hengky Adinanta, figur yang dikenal sebagai "Pemilik Remora". Dalam tangkapan layar yang beredar, Hengky menunjukkan portofolio kepemilikannya di saham WBSA sebanyak 149.999 lot dengan harga rata-rata Rp715,41. Nilai investasinya yang semula Rp10,7 miliar membengkak menjadi Rp24,07 miliar, memberikan return fantastis sebesar 124,35%. Namun, yang menjadi perbincangan hangat adalah dampak dari aksi jual atau take profit yang dilakukannya. Dengan total saham WBSA yang hanya beredar di publik sekitar 4,18% (setara 3,62 juta lot), kepemilikan Hengky sebesar 150 ribu lot mencakup sekitar 4,1% dari total saham free float.

Dalam dunia saham, angka ini sangat masif. Ketika seorang pemegang saham dengan porsi sebesar itu melakukan penjualan serentak, tekanan jual akan melampaui daya serap pasar (bid), yang secara otomatis memicu jatuhnya harga hingga level ARB. Publik kini menjuluki fenomena ini sebagai "Remora yang berubah menjadi Paus", di mana investor yang awalnya dianggap mengikuti arus, ternyata memiliki kekuatan untuk menggerakkan (atau menjatuhkan) pasar sendirian.

Secara fundamental, PT BSA Logistics Indonesia Tbk memiliki total saham IPO sebanyak 8,67 miliar lembar. Namun, fakta bahwa barang yang benar-benar beredar di pasar hanya berkisar 4,18% menjadikannya saham "kering". Di pasar yang tidak likuid seperti ini, pergerakan harga tidak lagi mencerminkan kinerja perusahaan, melainkan murni mekanisme supply dan demand dari segelintir pemain besar.

Pada unggahannya, Hengky sempat menuliskan, "Waktu bersama sampai di ARA ke-10 (karena yang ke-11 saya digebuk duluan jadi gagal jualan...)". Kalimat ini mengindikasikan adanya persaingan antar pemegang saham besar (whale) untuk keluar lebih dulu dari "pintu sempit" likuiditas yang tersedia.

Kejadian di WBSA menjadi pengingat keras bagi investor retail agar tidak terjebak dalam euforia multibagger pada saham dengan free float rendah. BEI menegaskan bahwa meskipun status konsentrasi tinggi ini tidak serta merta menunjukkan pelanggaran hukum, investor wajib ekstra hati-hati. Risiko terjebak dalam "pucuk" saat para bandar atau paus melakukan exit strategy adalah ancaman nyata yang bisa menghanguskan modal dalam hitungan menit.

KALTIMFACT
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS