THIS SPACE IS OPEN FOR ADS
Buron! Sertu Majid Bone Melarikan Diri, Keluarga Korban di Kendari Tuntut Keadilan
kaltimfact, 05/03/2026
Nasional

Kota Kendari tengah diguncang oleh kasus memilukan yang menimpa seorang siswi Sekolah Dasar (SD) berinisial AKS (12). Bocah malang tersebut dilaporkan mengalami depresi berat hingga menunjukkan perilaku menyakiti diri sendiri setelah menjadi korban dugaan pencabulan oleh seorang oknum TNI berinisial Sertu Majid Bone, yang bertugas di wilayah Kodim 1417/Kendari.
Kronologi dan Hubungan Kekeluargaan
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian ini bermula ketika korban dan keluarganya sempat tinggal satu atap dengan terduga pelaku di Kecamatan Ranomeeto. Mirisnya, antara keluarga korban dan Sertu Majid Bone diketahui masih memiliki hubungan kekeluargaan. Namun, kepercayaan tersebut dikhianati oleh aksi bejat yang diduga dilakukan oleh sang oknum. Setelah kasus ini mencuat, keluarga AKS segera mengungsi dan memutuskan tinggal di rumah nenek korban di Kota Kendari demi keamanan.
Kondisi Psikologis yang Mengkhawatirkan
Hingga Mei 2026, kondisi AKS dilaporkan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Bibi korban, berinisial VN, mengungkapkan bahwa keponakannya kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan yang luar biasa.
"Kondisi korban semakin parah karena depresi berat. Dia sering mencakar-cakar tubuhnya sendiri dan menangis histeris ketakutan," ujar VN saat memberikan keterangan kepada media pada Minggu (3/5/2026). Perilaku isolasi mandiri menjadi keseharian AKS; ia takut keluar rumah dan lebih memilih mengurung diri di dalam kamar. Bahkan saat didampingi keluarga, korban lebih banyak merenung dan enggan menceritakan kembali peristiwa traumatis yang dialaminya.
Pelaku Melarikan Diri (Buron)
Di sisi lain, proses hukum menghadapi tantangan besar. Sertu Majid Bone dilaporkan melarikan diri (kabur) saat sedang menjalani pemeriksaan oleh atasannya di kesatuan. Status pelaku yang masih buron ini menambah keresahan bagi keluarga korban dan masyarakat luas. Hingga kini, pihak berwenang terus melakukan pengejaran terhadap oknum tersebut untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan pengadilan militer.

Upaya Pendampingan dan Respon Instansi
Pendampingan dari psikolog anak telah diberikan secara intensif, namun trauma yang dialami AKS tampaknya sangat mendalam sehingga perkembangan positif belum terlihat. Di tengah situasi ini, pihak TNI dikabarkan sempat berupaya mengajukan permintaan untuk membesuk korban sebagai bentuk perhatian.
Namun, permintaan tersebut ditolak secara halus oleh pihak keluarga. "Kemarin mereka mau datang, tapi kami keluarga takut karena korban masih depresi berat dan takut bertemu dengan orang baru," tegas VN. Keluarga menekankan bahwa saat ini prioritas utama adalah menjaga stabilitas emosi anak dan menghindari pemicu (trigger) yang dapat memperburuk kondisi mentalnya
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS