THIS SPACE IS OPEN FOR ADS
Perkuat Cadangan Devisa, Bank Indonesia Amankan 2 Ton Emas
Editor Kaltimfact, 05/16/2026
Nasional, Finansial

Tren diversifikasi aset cadangan devisa global kembali menunjukkan pergerakan dinamis pada awal tahun ini. Di tengah fluktuasi geopolitik yang kian memanas serta ketidakpastian ekonomi global yang belum mereda, Bank Indonesia (BI) dilaporkan resmi memborong sekitar 2 ton emas murni sepanjang kuartal pertama (Q1) tahun 2026. Langkah strategis bank sentral Indonesia ini terungkap secara transparan dalam laporan resmi terbaru bertajuk "Gold Demand Trends Q1 2026" yang dirilis secara berkala oleh World Gold Council (WGC) pada pertengahan Mei ini.
Meskipun angka 2 ton terlihat sangat signifikan untuk ukuran domestik, WGC mencatat bahwa volume pembelian oleh Bank Indonesia tersebut sebenarnya baru merepresentasikan sekitar 0,8 persen dari agregat akumulasi emas yang dilakukan oleh seluruh bank sentral di dunia dalam periode tiga bulan pertama tahun ini. Langkah taktis BI ini mempertegas komitmen kuat dari otoritas moneter nasional untuk terus memperkuat struktur cadangan devisa negara melalui instrumen aset aman (safe haven) demi menghadapi potensi guncangan eksternal yang tidak terduga.
Secara global, antusiasme institusi moneter terhadap logam mulia ini masih berada di jalur yang sangat positif. WGC melaporkan total pembelian bersih oleh bank-bank sentral dunia berhasil menyentuh angka 244 ton selama kuartal I-2026. Volume akumulasi ini mencerminkan adanya pertumbuhan sehat sekitar 3 persen jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun sebelumnya (year-on-year/YoY).
Dalam peta perburuan emas global awal tahun ini, National Bank of Poland (bank sentral Polandia) keluar sebagai pembeli paling agresif di dunia dengan mencatatkan rekor akuisisi fantastis sebesar 31 ton. Posisi kedua ditempati oleh Uzbekistan yang menambah cadangan strategisnya sebanyak 25 ton, disusul ketat oleh Kazakhstan dengan raihan sebesar 13 ton, serta raksasa ekonomi Asia, China, yang turut mengamankan tambahan 7 ton emas ke dalam brankas moneter mereka.
Sebaliknya, kondisi berbanding terbalik justru terjadi pada beberapa negara sekutu dan kawasan Eurasia. Ketika mayoritas negara berlomba-lomba mengamankan pasokan logam mulia, bank sentral Turki, Rusia, Azerbaijan, dan Bulgaria justru mengambil kebijakan sebaliknya dengan melepaskan atau menjual sebagian cadangan emas mereka secara masif ke pasar internasional.
Shaokai Fan, selaku Head of Asia-Pacific ex-China WGC, memaparkan secara terperinci mengenai latar belakang ekonomi di balik aksi lego emas tersebut. Bank sentral Turki tercatat memimpin aksi penjualan global dengan melepas hingga 79 ton emas. Langkah ekstrem ini terpaksa diambil oleh otoritas Turki demi melakukan intervensi pasar yang masif dalam menjaga stabilitas nilai tukar mata uang lira yang terus-menerus mengalami depresiasi hebat. Sementara itu, Rusia berada di posisi berikutnya dengan menjual sekitar 22 ton cadangan emasnya. Alasan utama Kremlin melakukan divestasi ini murni bersifat fiskal, yaitu untuk menutup defisit anggaran domestik serta membiayai kelanjutan operasi militer dan perang yang masih terus berlangsung sengit dengan Ukraina.
Kendati ada aksi likuidasi dari beberapa negara besar tersebut, pihak WGC menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah sebuah sinyal adanya kepanikan atau aksi jual massal di pasar komoditas emas global. Mayoritas bank sentral di berbagai belahan dunia dinilai masih berada dalam fase akumulasi yang sangat sehat. Hanya saja, tingkat pembelian global memang diprediksi tidak akan seagresif capaian rekor historis pada tahun 2025 lalu. Hal ini disebabkan karena setiap negara kini mulai menerapkan strategi penyeimbangan kembali (rebalancing) portofolio aset mereka guna merespons tingginya volatilitas pasar keuangan global saat ini.
Banyak bank sentral yang kini mulai fokus melakukan intervensi langsung untuk menyelamatkan nilai tukar mata uang masing-masing, yang secara otomatis menyerap likuiditas cadangan devisa dan membatasi ruang fleksibilitas mereka untuk mendiversifikasikan aset ke instrumen emas. Berdasarkan kalkulasi matematis dan analisis tren terkini, WGC memproyeksikan total permintaan emas dari sektor bank sentral global akan bergerak stabil pada rentang yang cukup solid, yakni antara 700 hingga 900 ton hingga akhir tahun 2026 mendatang.
THIS SPACE IS OPEN FOR ADS